Menurut kisah Mbah Mandung, Pantai Drini memiliki sejarah yang berkaitan dengan pelarian Raja Majapahit dan Ratu Selirnya. Saat melarikan diri dari kejaran musuh, mereka terpisah, dan Sang Ratu yang sedang hamil akhirnya tiba di Padukuhan Jambu. Di sana, ia melahirkan, namun anaknya tidak selamat dan dimakamkan di tempat yang kini disebut "Makam Cilik." Sang Ratu melanjutkan perjalanan ke selatan, melewati kampung yang kemudian dinamai "Padangan," hingga tiba di pesisir pantai. Dalam kesedihannya, air matanya menetes ke bebatuan, dan secara ajaib tumbuhlah tanaman yang diberi nama pohon Drini. Pada tahun 1958, Bupati Gunungkidul Darmakum (Darmo Kusumo) dan Lurah Desa Banjarejo membuka lahan di sekitar pantai, menjadikannya objek wisata unggulan. Sayangnya, tanaman drini kini semakin langka, sehingga warga mulai membudidayakannya agar tidak punah. Pantai Drini dapat dikunjungi dengan perjalanan sekitar 30 menit dari Kota Wonosari dengan akses jalan yang mudah.
tarif parkir resmi di kawasan pariwisata ditetapkan sebagai berikut:
Harga tiket masuk wisata ini yaitu sebesar Rp 15.000. Pantai Drini buka setiap hari selama 24 jam sehingga terbuka kapan saja bagi pengunjung.